sejarah sosial 


Wanita dalam Sistem Sosial
     Peranan dan status perempuan dalam hal ini dapat terlhat melalui keterlibatan perempuan itu sendiri dalam ikatan kesatuan pada kelompok-kelompok social yang diikutinya dalam kehidupan masyarakat, antara lain dalam kehidupan rumah tangga, keluarga, pembangunan dan sebagainya. Selanjutnya, dalam kelompok-kelompok social tersebut pada dasarnya memperlihatkan tentang bagaimana peran dan status perempuan itu, bagaimana ketergantungannya dengan individu-individu lain beserta unsur-unsur social yang tergabung didalam kelompok tersebut, yang terintegrasi, bersifat lebih kekal dan stabil. Kondisi masyarakat seperti inilah yang pada dasarnya dapat dikatakan sebagai sistem social. 

     Peranan dan status itu sebenarnya merupakan unsur atau komponen yang tergabung dalm sistem social disamping unsur-unsur yang lainnya, begitu pula peranan dan status perempuan itusendiri dalam suatu kelompok social pada kehidupan ini, karena dengan status dan peranan perempuan tersebut dapat menentukan sifat dan tingkatan kewajiban serta tanggung jawab didalam kelompok dimana si perempuan itu terlibat. Selain itu, juga dapat menentukan hubungan antara atasan dan bawahan secara terstruktur terhadap anggota lainnya yang tergabung didalm kelompok social tersebut. Status yang dimiliki oleh perempuan dalam hal ini merupakan serangkaian tanggung jawab, kewajiban, serta hak-haknya yang telah ditentukan dalam suatu kelompok atau masyarakatnya. Sedangkan pola tingkah laku yang diharapkan dari perempuan itu sendiri sebagai pemangku status dinamakan peranan. Peranan-peranan itu didalam kelompok social atau masyarakat saling berpadu sedemikian rupa dengan p;eranan anggota lainnya sehingga saling tunjang-menunjang secara timbale balik didalam sesjatu hal yang menyangkut tugas, hak dan kewajiban. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penampilan peranan (status-role performance) dari perempuan sebenarnya adalah sebagai proses penunjukkan atau penampilan dari satus dan peranan dari kelompok sosialnya sebagai unsur status social dalam sistem social.


-Contoh wanita dalam sistem sosial yaitu

   1. Peran wanita dalam dunia fashion di kalangan anak muda Dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang memunculkan berbagai aplikasi sosial media yang memberi ruang  kepada wanita untuk  mengambil peran didalamnya.

   2. Peran wanita dalam sektor pembangunan ekonomi

Perempuan dalam hal ini mendapat kesempatan untuk mewujudkan potensi-potensinya secara optimal. Hal ini merupakan kebutuhan perempuan yang harus dipenuhinya, dan tidak sedikit pula bagi perempuan Indonesia yang telah berupaya memenuhi kebutuhan tersebut baik yang masih berstatus “lajang” maupun yang telah berumah tangga. Kondisi seperti ini bisa kita cermati secara empirik, bahwa pada zaman dahulu kebutuhan perempuan pada umumnya terbatas padakebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, dan perlindungan, kebutuhan akan cinta dan”belonging” (social needs), sedangkan pada masa sekarang dapat mengikuti pendidikan, bekerja di kantor ataupun menduduki jabatan kepemimpinan, dan bahkan kebutuhan akan prestasi serta perwujudan diri, aktualisasi diri bisa dirasakan dan dipenuhi oleh sebagian besar perempuan di Indonesia.
peran Perempuan dalam Keluarga
 Sebagaiman kita ketahui, keluarga itu sendiri dapat dilihat dalam arti kata yangsempit yaitu sebagai keluarga inti (exstended family) yang merupakam kelompok sosial terkecil dari masyarakat, yang terbentuk berdasarkan pernikahan dan terdiri dari seorang ayah (suami), ibu (istri), dan anak-anak yang di dalamnya dilandasi oleh cinta dan kasih sayang di antara anggotanya. Keluarga inti sebagai kelompok primer yang terkait oleh hubungan intim mempunyai fungsi-fungsi utama sebagai berikut:  
  • Pemberian afeksi, dukungan, dan persahabatan, dan membesarkan anak.
  • Meneruskan norma-norma kebudayaan, agama, dan moral pada yang muda
  • Mengembangkan kepribadian
  • Membagi dan melaksanakan tugas-tugas di dalam keluarga maupun di luarnya 

   3. Peran wanita dalam usaha bidang kosmetik

Dibalik tata rias dan model kebaya yang sifatnya seremonial terdapat penyedia layanan jasa kebaya dan tata rias yang digerakkan oleh kaum wanita yang dapat merambah pada cabang bisnis Wedding Organizer
 Korupsi

Korupsi merupakan penyakit negara yang bersifat kompleks bahkan menjadi semakin rumit karena pandangan umum terhadap komitmen antikorupsi sering kali tidak relevan.

Ilmu sejarah dapat melihat korupsi sebagai gejala zaman mengindikasikan adanya penyakit lain yang lebih akut dan akan terjadi di masa yang akan datang.

Banyaknya korupsi yang terjadi di Indonesia membuat sejarawan memiliki banyak opsi untuk melihat korupsi dari berbagai dimensi dengan cermat

Mochtar Lubis memperkenalkan beberapa bentuk korupsi yang “berwajah banyak” :

1.  Korupsi tidak hanya berlaku di kalangan pegawai negeri/birokrasi negara

2.  Korupsi juga terjadi di organisasi usaha swasta

3.  Pegawai birokrasi/ swasta dapat melakukan korupsi dengan mencuri uang negara / perusahaan

4.Bentuk korupsi yang lebih halus dan hilai dipraktikkan oleh pejabat-pejabat kolonial.

5.Bentuk korupsi politik 
Gerakan Sosial

Kajian tentang gerakan sosial sempat mengalami masa masa dimana sejarawan kurang menaruh minat yang disebabkan oleh masih kuatnya pengaruh historiografi Neerlandosentris dalam sejarah indonesia

Gerakan sosial di indonesia menunjukkan adanya beberapa kategori :

1.Perbanditan sosial

2.Gerakan protes keadaan atau peraturan yang tidak adil

3.Gerakan yang bersifat revivalistis

4.Gerakan bercorak nativistis

5.Gerakan mesianistis

6.Gerakan gerakan yang dijiwai semangat perang sabil
 
 Protes Sosial

Sartono membuat kategori kategori gerakan meskipun secara umum seluruhnya merupakan protes sosial, nampak keunikan dari masing masing gerakan khususnya terhadap motif dan kekuatan yang mendorong kemunculan gerakan  protes tersebut

Dipedesaan pedesaan jawa pada abad ke 19 sampai ke 20 gerakan protes sosial menggeliat dalam berbagai bentuk, mulai huru hara sampai aksi perbanditan

Comments

Popular posts from this blog

Review buku Yansen "revolusi dari desa"