sejarah sosial ; IMPLEMENTASI PENULISAN SEJARAH SOSIAL DI INDONESIA


ž IMPLEMENTASI PENULISAN SEJARAH SOSIAL DI INDONESIA
Penulisan sejarah sosial di Indonesia dilakukan oleh sejarawan asing maupun oleh
sejarawan Indonesia sendiri. Penulisan sejarah banyak mengalami kemajuan, baik dari segi
metodo­logi maupun materinya. Penulisan Sejarah Sosial khususnya mengalami
perkembangan pesat, dengan menggunakan pendekatan multidimensional, sebab sejarah
sosial memiliki cakupan yang sangat luas. Materi-meteri sejarah sosial meliputi pelaku
sejarah, baik seseorang ataupun kelompok manusia seperti: pedagang, buruh, nelayan,
petani atau­pun guru. Sejarah Sosial mengungkap struktur-struktur sosial, gerakan so­sial,
studi tentang kota perkotaan atau sejarah sosial kota dan sebagainya. Langkah-langkah
penulisan sejarah sosial meliputi empat kegiatan pokok yakni : Heuristik, Kritik, lnterpretasi
dan Penyajian. Penulisan sejarah sosial tidak ditulis secara diskriptif, melainkan harus
disusun secara analisis agar merupakan penulisan sejarah yang bersifat ilmiah. žBeberapa
karya sosiologi dapat dijadikan referensi dalam mengamati gejala dan fenomena sosial
yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. žBerikut adalah contoh karya penulisan sejarah
oleh para sejarawan:
Karya sejarawan Asing
 
1.Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian I: Batas
Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

2.Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II:
Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

3.Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian III:
Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

4.W.F. Wertheim. Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Studi Perubahan Sosial.
Yogyakarta, Tiara Wacana, 1999.
Karya Sejarawan Indonesia
Kuntowijoyo. Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura, 1950-1940.
 Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002.
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan petani Banten 1888. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya,
1984.
Sartono Kartodirdjo. Protest Movement in Rural Java: A study of Agrarian Unrest in the
Nineteenth and Early Twentieth Centuries. Singapore: Oxford University Press, 1973. 
žSuhartono. Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta, 1830-1920.
Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991. Wasino. Modernisasi di Jantung Budaya Jawa. 
Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014.
 
Sejarah Mikro

 Merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada lingkup spasial yang sangat kecil.Sejarah lokal dan sejarah pedesaan dapat dikategorikan didalamnya. Karena ruang lingkupnya yang kecil maka seringkali sejarah mikro tidak mendapat perhatian dan antusias dari sejarawan dan mahasiswa Ilmu Sejarah. Sejarah mikro (microhistory) merupakan bagian dari sejarah sosial yang mengamati fenomena-fenomena secara mikroskopis. Burke (2003: 55-63) menjelaskan bahwa sejarah mikro merupakan sebuah tren dalam kajian yang memberi perhatian pada analisis sosial mikro. Secara sederhana sejarah mikro diartikan sebagai kajian sejarah yang memberi perhatian pada unit analisis yang sempit, seperti peristiwa tertentu, komunitas di pedesaan, serta keluarga dan individu.
Sejarah mikro memberikan manfaat dalam historiografi modern. Ditinjau dari pengertiannya paling tidak ada lima manfaat memahami sejarah mikro. Pertama, melalui sejarah mikro diketahui aspek-aspek mendetail dari masyarakat pada lingkup yang kecil. Selama ini aspek mendetail ini jarang diketaui dan terekam dalam dokumen. Kedua, memperkaya alternatif dan perspektif terhadap satu permasalahan dari sudut pandang lain secara mendalam. Ketiga, mampu mengeksplorasi kehidupan masyarakat secara lebih hidup dan beragam. Keempat, memberikan kajian terhadap suatu permasalahan dengan lebih manusiawi, sehingga tidak ada lagi istilah history without people. Kelima, memberikan kesempatan terhadap kajian masyarakat yang terpinggirkan,

žBeberapa batasan-batasan yang memenuhi syarat untuk disebut “mikro” 
Beberapa permasalahan yang dapat diselidiki antara lain:

a.modernisasi desa

b.Ketahanan ekonomi desa

c.Pola hubungan patron-client di antara petani

d.Perkebunan rakyat

e.Pasang surutnya lembaga non formal

f.Kekuasaan tokoh-tokoh tradisional

g.Peran kaum pembaharu

h.Peta politik pedesaan

i.Perubahan pola konsumsi masyarakat

j.Gizi dan penyakit, isu-isu kesehatan lain

k.Peran kelas menengah pedesaan
Pada prinsipnya penulisan sejarah mikro perlu metodologi yang khusus, kerangka konseptualnya haruslah cukup halus agar dapat dilakukan analisis yang tajam. Dengan demikian, diharapkan pola-pola mikro dapat diekstrapolasikan. Hal-hal yang perlu ditonjolkan adalah struktur, pola, atau kecenderungan-kecenderungan khusus. 
 
 

Comments

Popular posts from this blog

Review buku Yansen "revolusi dari desa"