Judul Jurnal : Proses Penamaan Desa di Kabupaten Sleman: Tinjauan Semantis
Volume : Vol. 4 No. 2, Desember 2014 Halaman 207 - 214
Sumber :
Penulis : Nusarini dan Leili Sofia Marwati
Reviewer : Afif Maulana
Pendahuluan
(3) Hargobinangun
(4) Girikerto
d. simpulan Uraian di atas menunjukkan bahwa latar belakang penamaan desa di Kabupaten Sleman, secara etimologis menunjukkan adanya unsur alam (gunung, tumbuhan, hutan, dan air), unsur aktivitas (binangun, dono), unsur keadaan yang diharapkan (kerto, harjo, mulyo). Sedangkan dari segi sejarah desa menunjukkan adanya gejala penamaan dikaitkan dengan peristiwa penggabungan beberapa desa serta sejarah penggunaan lokasi yang tertentu. Secara linguistis, semua nama desa yang dikaji menunjukkan ciri berbentuk polimorfemis. Unsur nama desa terdiri atas dua konstituen K1 dan K2 dengan dua tipe. Tipe 1: K1 dan K2 berupa morfem monomorfemik. Tipe 2: K1 morfem monomorfemik dan K2 morfem polimorfemik
Volume : Vol. 4 No. 2, Desember 2014 Halaman 207 - 214
Sumber :
Penulis : Nusarini dan Leili Sofia Marwati
Reviewer : Afif Maulana
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsi latar belakang penamaan desa dan kaidah kebahasaan nama-nama desa di Kabupaten Sleman. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap penyediaan data, tahap penganalisisan data, serta tahap pemaparan hasil analisis data. Nama desa yang digunakan sebagai sampel berada di bawah Kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi, dan Gamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang penamaan desa dapat diklasifikasikan berdasarkan proses penamaan desa berdasar etimologi unsur alam berupa gunung, jenis tumbuhan, hutan, dan air; unsur verba; dan etimologi selain unsur alam, serta proses penamaan desa berdasarkan sejarah desa. Aspek kebahasaan yang digunakan dalam penamaan desa di Kabupaten Sleman DIY adalah nama-nama desa memiliki bentuk kata polimorfemis, dalam bentuk kata polimorfemis terdapat unsur yang terdiri atas dua konstituen monomorfemis dan terdiri atas satu konstituen monomorfemis dan satu konstituen
Pendahuluan
Nama tempat memiliki kemungkinan ditelusur secara historis. Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, nama nama desa juga memiliki latar belakang sejarah yang beragam. Banyak cara dilakukan untuk menjabarkan asal-muasal nama suatu tempat. Cara yang paling lugas dengan
menggaris bawahi fitur-fitur alami yangada, seperti Trihanggo berasal dari tri ‘tiga’dan hanggo dari kata angga yang berarti‘badan’ jadi Trihanggo berarti ‘tiga badan’. Selanjutnya, tulisan ini membahas kecenderungan penamaan desa di lingkungan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Datanama desa beserta sejarah dan konteks sosial lainnya dianalisis secara semantis, serta mengorelasikan bahasa dengan proses penamaan. Data diperoleh dengan membaca sejarah desa dan wawancara dengan informan, yaitu pejabat desa dan tokoh masyarakat. Analisis data menggunakan
metode padan translasional yang penentunya adalah bahasa lain dan padan referensial yang penentunya berupa unsur yang diacu oleh satuan lingual yang digunakan sebagai nama desa.
Latar Belakang
Pembahasan dalam tulisan ini mencakup dua hal, yaitu:
1. latar belakang penamaan
2. aspek kebahasaan yang terdapat dalam nama-nama desa.
Pada pembahasan pertama yaitu latar belakang penamaan terdapat dua subpembahasan yaitu
a. proses penamaan desa berdasar etimologi nama desa
b. proses penamaan desa berdasar sejarah berdirinya desa.
1. Proses penamaan desa diklasifikasi berdasar etimologi nama desa karena adanya kecocokan antara pengertian secara etimologi dengan latar belakang penamaan desa. Pada proses penamaan desa berdasar etimologi terbagi berdasar etimologi unsur alam yang mencakup unsur alam berupa gunung, jenis tumbuhan, hutan, air, dan klasifikasi berdasar etimologi selain unsur alam Penamaan
Menggunakan Unsur Alam Proses penamaan desa diklasifikasi berdasar unsur alam karena penamaan desa memiliki unsur alam misalnya gunung, nama tanaman, hutan, dan air. Desa yang mencakup dalam klasifikasi proses penamaan desa berdasar etimologi unsur alam berupa gunung.
(1) Wukirsari
(2) Argomulyo(3) Hargobinangun
(4) Girikerto
Kata wukir pada Wukirsari, argo pada Argomulyo, hargo pada Hargobinangun, dan giri pada Girikerto berarti ‘gunung’. Hal tersebut menunjukkan lingkungan alam desa tersebut berada di gunung atau pegunungan. Keempat desa tersebut terletak di kaki Gunung Merapi. Desa Wukirsari dan Argomulyo berada di Kecamatan Cangkringan, Hargobinangan di Kecamatan Pakem, dan Girikerto di Kecamatan Turi.
2. Penamaan Berdasar Proses Berdirinya Penamaan desa diklasifikasi berdasar sejarah berdirinya desa karena penamaan desa menggunakan latar belakang sejarah desa itu sendiri untuk dipakai menjadi nama desa. Berikut yang termasuk klasifkasi proses penamaan desa berdasar sejarah berdirinya desa, seperti tampak pada data berikut.
14) Nogotirto
15) Trihanggo
16) Balecatur
17) Amarketawang
18) Banyuraden
19) Kepuharjo
Kata nogo pada Nogotirto berarti Kelurahan lama Nogosaren dan kata tirto pada Nogotirto berarti petilasan pemandian kuda Pangeran Diponegoro, jadi dinamakan Nogotirto karena Kelurahan Nogosaren merupakan cikal bakal penamaan Kelurahan Nogotirto dan adanya petilasan pemandian kuda Pangeran Diponegoro. Kata tri pada Trihanggo berarti ‘tiga’ dan kata hanggo pada Trihanggo berarti ‘badan’, jadi dinamakan Trihanggo karena terbentuk dari gabungan tiga kelurahan lama. Kata bale pada balecatur berarti rumah, pendopo dan kata catur pada balecatur berarti empat, jadi dinamkan Desa Balecatur karena dahulunya merupakan gabungan empat kelurahan lama yaitu kelurahan Sumber, Gamol, Pasekan, dan Jitengan. Desa Ambarketawang dinamakan Ambarketawang karena di desa ini terdapat cagar budaya berupa petilasan Ambarketawang yang merupakan petilasan bangunan Keraton Ambarketawang. Kata banyu pada Banyuraden berartu Banyumeneng dan kata raden pada Banyuraden berarti Kradenan, jadi dinamakan Desa Banyuraden karena dahulunya Desa Banyuraden merupakan gabungan dari dua kelurahan lama yaitu Kelurahan Banyumeneng dan Kradenan. Desa Kepuharjo dinamakan Desa Kepuharjo karena dahulunya lurah pertama bertempat tinggal di Dusun Kepuh, nama Dusun Kepuh inilah yang menjadi cikal bakal penamaan Desa Kepuharjo.
a. Konstituen Pembentuk Dalam aspek kebahasaan nama-nama desa di Kabupaten Sleman peneliti menemukan hasil analisis berupa konstituen yang membangun suatu kata memiliki bentuk monomorfemis dan polimorfemis. Konstituen (K) adalah unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar. Oleh karena itu peneliti menyebut konstituen yang membangun sebuah kata disebut konstituen monomorfemis dan konstituen polimorfemis. Disebut konstituen monomorfemis karena terdiri atas satu morfem sedangkan disebut konstituen polimorfemis karena terdiri atas dua atau lebih morfem. Nama-nama desa di Kabupaten Sleman yang memiliki bentuk kata polimorfemis diklasifikasi berdasarkan adanya dua konstituen monomorfemis karena konstituen satu (K1) dan konstituen dua (K2) merupakan bentuk konstituen monomorfemis, seperti pada data 5) berikut :
Desa Glagaharjo Nama Glagaharjo berbentuk kata polimorfemis. K1 glagah dan K2 arjo. Konstituen satu berbentuk monomorfemis karena terdiri atas satu morfem, glagah, begitu juga konstituen dua berbentuk monomorfemis karena terdiri atas satu morfem, arjo. Konstituen satu dan konstituen dua merupakan unsur terkecil dari kata glagaharjo.
b. Perubahan Bunyi /a/ dalam Bahasa Jawa menjadi /o/ dalam Bahasa indonesia Hal ini terjadi karena adanya kontak bahasa antara Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia. Perbedaan dalam hal sistem fonem vokal Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia sering menimbulkan pembacaan yang salah (misalnya, nama-nama diri atau nama tempat) dalam konteks pemakaian yang bersifat Indonesia sering dibaca kurang tepat karena perbedaan sistem vokal tersebut. Misalnya, dalam bahasa Jawa tidak terdapat vokal /á/ (seperti dalam bahasa Jawa: apa ‘apa’, dawa ‘panjang’, lunga ‘pergi’) melainkan vokal /à/ (seperti dalam bahasa Jawa: dana ‘memberi’, kerta ‘makmur’)
c. Perspektif Penamaan Uraian pada bab terdahulu menunjukkan bahwa penamaan desa memanfaatkan satuan-satuan lingual yang sudah lazim diguna kan dengan kandungan arti yang telah ada sebelumnya. Kandungan arti tersebut cenderung masih dipertahankan dan mengandung makna baru dalam kaitannya dengan aspek kesejarahan, harapan, dan deskripsi lingkungan alam. Penamaan desa Wukirsari, Argomulyo, Hargobinangun, dan Girikerto, mengandung perspektif lingkungan alam diikuti harapan, seperti tampak pada uraian butir 1. Penamaan desa Purwobinangaun, Harjobinangun, Pakembinangun, Candibinangun, Donokerto, dan Bangunkerto mengandung unsur deskripsi keadaan dan perspektif harapan, seperti tampak pada uraian butir 2.. Penamaan desa Nogotirto, Trihanggo, Balecatur, Amarketawang, Banyuraden, dan Kepuharjo mengandung perspektif kesejarahan, seperti tampak pada uraian butir 3. Perspektif lingkungan, harapan, dan kesejarahan tersebut sampai saat ini masih dihayati oleh para pamong desa dan masyarakatnya. Hal tersebut terungkap dalam wawancara dengan responden yang terdiri atas unsur pamong dan tokoh masyarakat desa masing-masing. Khusus aspek kesejarahan, semuanya tertuang dalam dokumen sejarah desa.
d. simpulan Uraian di atas menunjukkan bahwa latar belakang penamaan desa di Kabupaten Sleman, secara etimologis menunjukkan adanya unsur alam (gunung, tumbuhan, hutan, dan air), unsur aktivitas (binangun, dono), unsur keadaan yang diharapkan (kerto, harjo, mulyo). Sedangkan dari segi sejarah desa menunjukkan adanya gejala penamaan dikaitkan dengan peristiwa penggabungan beberapa desa serta sejarah penggunaan lokasi yang tertentu. Secara linguistis, semua nama desa yang dikaji menunjukkan ciri berbentuk polimorfemis. Unsur nama desa terdiri atas dua konstituen K1 dan K2 dengan dua tipe. Tipe 1: K1 dan K2 berupa morfem monomorfemik. Tipe 2: K1 morfem monomorfemik dan K2 morfem polimorfemik
Artikelnya keren kak, simply but perfect 😉
ReplyDeleteWahhh ternyata begitu proses penamaan suatu daerah. Terimakasih kak infonya, bermanfaat sekali🎉
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteBagus dan menambah informasi. Namun masih Tidak.ada nya rumusan masalah, landasan teori dan metode penelitian yg digunakan
ReplyDeletereview jurnal yang cukup bagus. sering-sering review jurnal yang lain.
ReplyDeletereview jurnal yang snagat menarik dan menginspirasi banyak orang, terutama orang awam yang belum mengetahui tentang Proses Penamaan Desa di Kabupaten Sleman
ReplyDeleteHalo kak, terima kasih sudah review jurnal Saya.. Semoga bermanfaat bagi yang membaca.. Terbuka bagi yang ingin memberikan saran dan kritik bagi Saya. Salam..
ReplyDelete